Rabu, 06 Maret 2013

Waterway, Transportasi Alternatif di Jakarta

Maket - Ini mantap juga nih beritanya bro, waterway! Waterway ini merupakan Moda transportasi air untuk masyarakat terutama yang Marunda menuju Muara Baru. Waterway ini bisa jadi alternatif lain kepada masyarakat yang terhalau kemacetan di jalan darat.
Saat ini cuman ada dua buah kapal yang beroperasi. Menurut Jokowi, untuk Tarif angkutan air (waterway) diupayakan dibuat semurah mungkin. Dengan suntikan subsidi, ditargetkan tarifnya setara dengan tarif angkutan darat.
Selama masa percobaan, dua Kapal Motor Karapu siap mengantar warga tanpa memungut biaya. Kapal Motor Kerapu diperkuat dengan mesin 200 PK, dan sanggup melaju dengan kecepatan 25-30 knot. Setiap harinya, kapal ini akan melayani dua perjalanan pada pukul 07.00 WIB dari Marunda dan pukul 16.30 WIB dari Muara Baru.
Dengan kecepatan maksimal 30 knot, rute kapal sejauh 17 Km dapat ditempuh hanya selama 30 menit. Kapasitas kapal motor jenis kerapu ini masing-masing mampu menampung 24 orang penumpang. Dengan keberadaan kapal ini, akses warga Marunda ke arah Pluit menjadi lebih cepat dibandingkan jika memakai bus
Selain itu dengan adanya transportasi air ini juga bisa memudahkan masyarakat di Kepulauan Seribu untuk mendapatkan transportasi. Transportasi ini juga untuk menjaga kebersihan air laut dari sampah buangan masyarakat.
Berikut Foto-foto Waterway:
http://statik.tempo.co/?id=167466&width=620
http://statik.tempo.co/?id=167467&width=620
http://statik.tempo.co/?id=167468&width=620
http://statik.tempo.co/?id=167465&width=620
Semoga waterway bisa dikelola dengan baik dan jadi solusi atasi kemacetan di Jakarta.
Info: Maket

Ilmuwan Indonesia Lebih Nyaman di Luar Negeri

Maket - Miris sih sebenernya, tapi mau apa dikata, kurangnya perhatian dari pemerintah membuat mereka menentukan pilihan yang lebih nyaman buat mereka.
Fenomena ilmuwan Indonesia yang kerja di luar negeri tidak lepas dari kurangnya dukungan sistem pengembangan sains dan teknologi. Seandainya sistem tersebut terbangun, tentu para ilmuwan tersebut akan nyaman kerja dan melakukan penelitian di negeri sendiri.
http://us.images.detik.com/content/2011/09/12/10/majalahdalam.jpg
Dr Taufik, ilmuwan Indonesia pertama yang tampil sebagai cover di majalah yang beredar hingga luar AS itu.
Namun Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmaloka mengaku tidak khawatir dengan fenomena itu. Dia menilai, Justru dengan banyaknya ilmuwan Indonesia di luar negeri akan berdampak positif. Apalagi, para ilmuwan tidak bisa dicegah atau bahkan dilarang kerja di luar negeri.
Akhmaloka menuturkan pengalamannya sendiri ketika baru lulus kuliah di Inggris jurusan genetic engineering pada 1990-an. Saat itu dia langsung ditawari kerja selama tiga tahun di Inggris. Tetapi setelah meminta pendapat kepada profesornya di ITB, Akhmaloka akhirnya menolak tawaran itu. Meskipun saat itu di Tanah Air Akhmaloka belum tentu bisa mempraktikkan ilmunya mengingat masih langkanya genetic engineering.
Dia bisa memahami alasan ilmuwan yang memilih melakukan penelitian untuk negara lain. Ada perasaan tidak berguna yang dialami ilmuwan muda yang baru lulus kuliah di luar negeri ketika tiba di Tanah Air. Mereka masih muda, bahkan mungkin sudah menyandang gelar doktor atau profesor, tetapi hasil pendidikannya selama ini tak mendapat tempat ataupun dihargai.
Doktor muda kan semangatnya tinggi, ada perasaan ilmunya tak berguna. Inilah yang kadang-kadang menyebabkan teman-teman kita itu ke luar negeri. Jadi saya tidak ingin mencegah mereka, tetapi tentu kita harus membangun sistem kita di dalam negeri sebaik mungkin, kata Akhmaloka kepada Okezone, belum lama ini.
Selain itu, penghargaan terhadap saintis di dalam negeri juga jauh lebih kecil ketimbang di luar negeri. Di dalam negeri, tambahnya, pernah muncul keprihatinan tentang nasib peneliti lembaga pengetahuan negeri tetapi tunjangan atau gajinya sangat kecil meskipun bergelar profesor.
Menurut Ketua Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 itu, aspek lain yang tidak kalah penting adalah sarana dan prasarana penelitian, seperti laboratorium-laboratorium untuk berbagai jurusan teknik yang masih minim. “Seorang peneliti nanoteknologi tentu akan mati langkah ketika tidak ada laboratorium nanoteknologi,” tuturnya.
Maka dengan kondisi itu, ungkap Akhmaloka, para peneliti pun berpaling ke luar negeri. Sebab, di sana mereka bisa menyalurkan ilmu, menemukan laboratorium, termasuk kesejahteraan.(okezone/rfa)
Semoga jadi perhatian bagi pemerintah untuk mensupport para ilmuwan kita ini, jangan hanya memikirkan politik terus..hehe.
Info: Maket

Megging, Trend Celana Baru untuk Pria

Pasang Billboard - Tren baru nih bro, ada yang udah perha pake atau berani makenya? ..Ingatkah Anda dengan celana ketat yang dikenakan Obelix dan Asterix? Dalam komik itu, tiap lelaki penduduk Galia mengenakan celana ketat yang mudah melar alias legging. Dan kini, pada 2013, celana ketat khusus pria itu kembali menjadi tren. Namanya adalah megging.
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQQqbUosyeJvsT4ETbu35kcvH4yGg2n3SBKEZCPL95afMpT2FUk
Pada tahun-tahun sebelumnya, legging populer di kalangan kaum hawa. Bahannya yang tak tebal serta mengetat dapat membantu si pengguna menonjolkan lekuk kaki. Apalagi ada aneka warna serta motif, yang membuat kaki jenjang tampak lebih indah. Kelenturan bahan pun menjadikan legging nyaman dikenakan.
Kemudian, pada pengujung 2012, para lelaki mulai melirik celana ketat itu. Dimulai dari Justin Bieber, Russel Brand, serta Lenny Kravitz, kini megging mulai bertebaran. Sejumlah merek busana, seperti Uniqlo, Berneys, dan Nordstrom, juga tak mau ketinggalan tren tahun ini. Menurut penulis fashion Tom Teodorczuk, celana megging diprediksi akan populer di Inggris. Sebab, jins ketat pun hingga saat ini masih populer di negara persemakmuran itu.
Di Inggris, tak cuma anak muda yang mengenakan megging. Orang dewasa seperti Mark Dorosz, 34 tahun, pun mengenakannya. Menurut dia, megging sangat nyaman ketimbang jins ketat. “Saya selalu merasa memiliki bentuk kaki yang bagus,” kata wirausahawan ini. “Dan sangat menyenangkan dapat menunjukkan ke banyak orang.”
Pria Inggris memang sudah ber-legging sejak setahun lalu. Tapi, kala itu, tatapan aneh hingga tertawaan akan mengiringi si pengguna di sepanjang jalan. Dan seiring kepopulerannya sekarang, tak ada lagi hinaan itu. Namun desainer Inggris yang tinggal di New York, Lucy Sykes, memperingatkan bahwa tidak semua pria cocok memakai megging. Sebab, tidak seluruh lelaki punya kaki yang bagus.
Megging sendiri sudah muncul sejak 2007 dalam koleksi pakaian pria oleh desainer Marni, Alexander McQueen, Martin Margiela, dan Calvin Klein. Saat itu, megging diperkenalkan sebagai alternatif pengganti celana panjang. Dan, pada musim gugur 2012, Direktur Kreatif Givency memodifikasi megging dengan pakaian olahraga pria.(tempo.co)
Info: Cetak Brosur