Senin, 22 November 2010

Undangan Via Internet Ancam Bisnis Percetakan



Bisnis percetakan kartu undangan pernikahan kini tengah menghadapi ancaman tren pengiriman undangan via internet melalui internet. Banyak calon pengantin memanfaatkan fasilitas situs web jejaring sosial facebook dan twitter untuk menyebarkan un dangan secara gratis dan cepat kepada teman-teman mereka.

Dampak pengiriman undangan pernikahan via internet terhadap bisnis percetakan sudah terasa selama setahun terakhir. Menurut Khristopha, pemilik bisnis percetakan In-Line Media yg berada di Jalan Monumen Jogja Kembali, jumlah pemesanan kartu undangan turun sekitar 30-50 persen.

"Kalau biasanya calon pengantin memesan 200-500 undangan, maka setahun terakhir jumlahnya perlahan-lahan turun. Sekarang, rata-rata jumlah pemesanan hanya 100-300 buah saja," katanya saat ditemui, Jumat (4/12).

Penurunan order juga dirasakan Husein, pengbisnis percetakan kartu undangan di Pakualaman, Yogyakarta. Bahkan, konsumen juga terkadang meminta pengbisnis membuatkan undangan versi digital agar lebih mudah diunggah di internet.

Ia melanjutkan, apabila tren mengirimkan undangan pernikahan lewat internet ini terus berkembang, maka bisnis percetakan kartu bisa merugi. Terlebih, harga kertas dan biaya penjilidan nyaris tak pernah turun. Jika tidak diimbangi jumlah orderan yg besar maka modal pengbisnis bisa terus terkuras.

Di mata konsumen, pengiriman undangan pernikahan lewat situs jejaring sosial jelas lebih efisien dan hemat. Menurut Gita Dila (25), warga Mergangsan, anggaran untuk persiapan pernikahan bisa dihemat lebih dari 30 persen.

Tadinya saya menganggarkan Rp 2 juta untuk memesan 500 kartu undangan, tapi dengan menyebar undangan via internet untuk 300 teman, maka hanya perlu Rp 1 juta saja untuk 200 undangan cetak untuk tamu-tamu khusus dan penting, katanya.

Selain murah, ditambahkan Andrian (30), warga Godean, Sleman, pengiriman undangan pernikahan lewat facebook juga memungkinkan ia memastikan jumlah tamu yg datang ke pesta pernikahan. Di situs itu terdapat pilihan bagi penerima undangan untuk datang, mungkin datang, atau tidak datang ke pesta pernikahan. Dengan begitu, ia bisa menyesuaikan anggaran pesta la in, misalnya untuk sewa kursi atau katering makanan.

Khristopha mengatakan undangan via internet memang jadi ancaman, akan tetapi bisa juga dianggap peluang. Ia kini tengah merintis jasa pembuatan desain undangan via internet . Tak sekadar gambar yg diunggah di situs jejaring sosial, Khristopha juga membuatkan undangan dalam bentuk situs pribadi, sehingga calon pengantin bisa menambahkan banyak fasilitas multimedia seperti musik atau film, bahkan berinteraksi langsung dengan teman-teman mereka.

"Bagaimanapun kami harus kreatif jika ingin bertahan dalam bidang bisnis ini. Jika tidak, pasti kami akan gulung tikar dalam waktu 1-2 tahun ke depan," ujarnya.

Sumber:kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar