Rabu, 04 Mei 2011

Sekeren Apapun Skill Musikmu, Jangan Belagu

Musik - Menjadi musisi adalah cita-cita, sama seperti keinginan menjadi dokter, insinyur atau presiden misalnya. Karena berada di area musikal, sangat memungkinkan pencipta dan pendengarnya menghadirkan sensasi dan ‘orgasme’ yang berbeda.

Ketika pencipta terhanyut dalam proses penciptaan sebuah lagu, pendengar mungkin bisa terwakili dari kejadian-kejadian yang kental dengan lirik lagu itu. Malah –secara pragmatis—lagu, lirik, pencipta dan pendengarnya, bisa “menemukan” sosok dan kepribadian yang utuh dan panjang lebar. Ibaratnya, mendengar lagunya saja, kita bisa membayangkan sedang apa si penciptanya.

SECARA TEORITIS, menjadi musisi dan komposer handal adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak diraih dengan sepele. Banyak yang lahir dari pola pendidikan akademis yang notabene linier. Tapi tidak sedikit yang besar karena “kecelakaan” bernama otodidak. Cara apapun yang ditempuh, akan “membesar” ketika si empunya talenta itu mau mengembangkan diri dengan maksimal. Tidak pernah puas dengan pencapaiannya.

Di Indonesia, saya mencermat gejala “kepuasan yang menghambat” ini begitu kuat dilakukan oleh banyak musisi atau composer. Indikasinya sederhana, ketika mencapai titik popularitas tertentu, banyak musisi yang merasa “itulah” puncaknya. Kemudian tidak punya elemen-elemen lain yang membuatnya mengembangkan diri supaya bisa benar-benar bertahan lama di industri yang memang tidak selamanya ramah ini.

Saya memang bukan musisi atau composer, hanya penulis yang mencatat bagaimana musisi dan composer itu berproses menjadikan talentanya sebagai kekuatan untuk bertahan. Saya hanya bergaul dengan musisi yang sempat bercerita, curhat atau ngobrol iseng tentang apapun yang berbau musik.

Dan inilah “teori” saya tentang bagaiman seorang musisi seharusnya menjadi musisi. Musisi bukan ‘lintah’ yang menyedot darah, kemudian mati kekenyangan. Musisi buat saya adalah pendaki, yang harus selalu berlatih keras untuk menaklukkan gunung-gunung yang tertinggi. Kalau ada yang puas karena sudah mencapai satu puncak, dia “hanya” akan tercatat di buku sejarah sebagai noktah kecil saja.

Untuk menjadi seorang musisi dan komposer yang baik, kamu perlu bekerja keras untuk jangka waktu yang panjang, dan kamu harus terus-menerus menantang diri untuk selalu memberikan karya yang baik. Kerja keras mungkin bukan satu-satunya faktor yang mengarah untuk menjadi musisi dan composer yang baik, tapi saya yakin itu adalah bahan yang paling penting.

Beberapa hal penting yang tampaknya sederhana, tapi menjadi kunci untuk sukses bagi musisi, akan saya bedah disini. Tidak semua teori yang saya kembangkan sendiri, beberapa diantaranya adalah ulasan cantik dari Malcom Gladwell. Di Indonesia, nama ini amat jarang [atau malah tidak pernah] disebut-sebut. Tulisannya tidak melulu soal musik, tapi banyak karya lain yang sukses. Dia adalah penulis dan wartawan asal Kanada.

Gladwell mewawancarai beberapa musisi kelas dunia di Amerika dan Kanada, dan menuliskan teorinya secara paralel dalam bukunya, Outlier [2008]. Menurutnya, kunci sukses musisi [dan bidang apapun], adalah praktek. Khusus untuk musisi, Gladwell member beberapa aturan:

Berlatih skill dan menulis lirik atau komposisi lagu, selama minimal dua jam setiap hari, empat atau lima kali seminggu. Gladwell menyebut aturannya itu dengan aturan 10.000 jam latihan. Pelatihan yang kamu lakukan pada setiap instrumen, teori musik, jamming dengan teman-teman, saya katakana itu semua membantu membuat kamu mejadi nusisi atau komposer yang lebih baik. Prinsip yang harus kamu ingat adalah, practice makes perfect.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar